KOMPAS.com — Hidup ini tentu lebih berwarna bila kita dikelilingi banyak teman baik. Tapi, dari teman kita juga bisa tertular kebiasaan buruk. Salah satunya adalah gaya hidup tak sehat yang bisa memicu kegemukan atau obesitas.
Bila teman Anda memiliki berat badan berlebih, kemungkinan badan kita untuk ikut melar pun meningkat jadi 57 persen. Angka itu melesat jadi 71 persen bila si teman tadi berjenis kelamin sama dengan Anda. Demikian menurut studi yang dilakukan para peneliti dari Harvard University, AS.
Menurut salah seorang peneliti, Nicholas Christakis, MD, PhD, bila kita terbiasa melihat orang dengan ukuran ekstra besar maka penerimaan kita terhadap ukuran tubuh bisa ikut berubah. Kita akan menganggap bertubuh besar bukanlah masalah. "Orang di sekitar kita bisa memengaruhi cara pandang kita tanpa pernah kita sadari," katanya.
Bila teman Anda memiliki pola makan tak sehat yang kaya lemak dan rendah serat, boleh jadi Anda tertular kebiasaan tersebut. Karena itu, Anda perlu menjaga prinsip dan pandangan tentang konsep sehat agar tidak mudah terpengaruh.
Punya teman yang punya kebiasaan minum alkohol juga akan berpengaruh pada kita. Bila teman Anda sering menenggak alkohol, Anda juga akan menganggap kebiasaan itu sebagai hal biasa. Para peneliti dari Universitas Texas, AS, menemukan bahwa 87 persen orang menjadi peminum berat bila teman mereka memiliki pandangan yang liberal soal alkohol.
JAKARTA, KOMPAS.com - Jangan mandi malam, nanti bisa kena rematik, Kalau bisa hindari mandi malam, nanti sakit tulang. Petuah-petuah itu kerap kita dengar. Berkembang anggapan di masyarakat mandi saat malam hari dapat menyebabkan rematik atau nyeri persendian, benarkah demikian?
Menurut Dr. Jony Sieman, SpKFR, Spesialis Rehabilitasi Medik dari RS Internasional Bintaro, secara medis mandi saat malam hari tidak menyebabkan nyeri pada persendian. Anggapan tersebut muncul dari pengalaman yang dialami masyarakat semata.
"Berangkat dari pengalaman orang, kalau terpapar dengan temperatur dingin rasa nyeri akan bertambah. Padahal tidak begitu," ujarnya disela Media Gathering, di RS. Internasional Bintaro, Kamis ( 10/9 ).
Dr. Jony merasa heran anggapan tersebut dapat berkembang di masyarakat. Pasalnya hingga saat ini belum ada penelitian yang mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah kutub utara yang terkena nyeri tulang akibat temperatur yang dingin.
Ia mengatakan, nyeri pada tulang lebih disebabkan dengan gaya hidup seseorang, seperti seberapa sering berolahraga. Dan bagaimana ia menggunakan persendiannya.
Meski demikian, ujarnya, masyarakat mesti tetap memperhatikan kondisi badan saat mandi malam. Jika kondisi badan tidak dalam keadaan bagus, sebaiknya tidak mandi malam.
Ia menyarankan, saat mandi malam, perhatikan juga suhu air yang digunakan. Pasalnya, air yang terlalu dingin dapat menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah. "Tak ada salahnya menggunakan air hangat jika suhu air terlalu dingin. Jangan terlalu ekstrim suhunya," terang dia.
Ia mengatakan, suhu air yang dapat diterima tubuh maksimal berbeda lima derajat celcius dengan suhu tubuh. "Suhu tubuh normal itu 36 derajat celcius, sehingga suhu air yang dapat diterima antara 29-30 derajat celcius," kata dia.
VIVAnews - Sendirian tidak selamanya menyedihkan. Jika waktu kesendirian dimanfaatkan dengan baik, bisa berefek positif pada keadaan psikologis Anda. Bahkan, setiap orang membutuhkan "waktu sendiri", baik untuk menenangkan diri ataupun menyegarkan pikiran.
Jadi, jika akhir pekan ini Anda sedang sendiri, lakukanlah kegiatan yang menyenangkan. Jangan biarkan kesendirian malah membuat Anda merasa kesepian. Ada beberapa hal sederhana yang bisa Anda lakukan saat sedang sendiri.
1. Jalan-jalan.
Berjalan-jalan sendiri bagi sebagian orang memang terlihat aneh. Tetapi tidak ada salahnya dicoba. Anda bisa berjalan saat sore atau pagi hari disekitar taman sambil mendengarkan musik.
Melihat hijaunya pepohonan dan menghirup udara segar, pasti jarang Anda lakukan karena setiap hari terperangkap dalam gedung kantor serta tenggelam dalam kesibukan pekerjaan. Berjalan bukan hanya membuat Anda sehat secara fisik tetapi juga psikis.
2. Perawatan
Saat sedang memiliki waktu senggang dan sedang sendiri Anda juga bisa melakukan perawatan. Pergi ke salon atau pusat perawatan baik langganan ataupun mencoba tempat baru bisa menjadi pilihan.
Anda bisa memilih perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mulai dari creambath, lulur, pijat, mandi susu, pedikur, hingga menikur. Bukan hanya menyegarkan pikiran tetapi membuat penampilan menjadi lebih segar.
3. Membaca buku
Membaca buku atau novel yang tebal tentu tidak bisa Anda lakukan jika tidak sedang sendiri. Untuk itu, bacalah buku favorit ketika Anda sedang memiliki waktu sendiri. Dan tentu, tidak akan ada yang mengganggu saat Anda sedang mengimajinasikan isi buku yang sedang dibaca.
4. Kursus singkat
Cobalah kursus singkat yang belum pernah Anda ikuti sebelumnya. And bisa mengikuti kelas masak, kelas kecantikan atau kelas dansa. Selain memiliki pengalaman baru dan membuat hidup lebih seru, Anda juga bisa mendapatkan teman-teman baru.
VIVAnews - Hobinya yang sering menghujani hadiah dan pujian untuk Anda, tentu bisa bikin teman-teman wanita Anda iri. Namun, semua ungkapan cinta yang menggebu ini tak bisa dijadikan jaminan bahwa kelak si dia juga bisa menjadi suami yang ideal.
Tes sederhana berikut akan menguji, apakah si dia cukup berpotensi menjadi partner hidup dalam susah dan senang.
- Apakah si tipe realistis? Pria realistis biasanya tidak akan memberikan janiji-janji manis pada Anda. Dia akan menunjukkan dirinya apa adanya. Yang perlu Anda sadari, tak ada makhluk yang sempurna. Tapi, Anda berdua bisa belajar saling melengkapi lewat potensi dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pasangan.
- Kejujuran. Tanpa kejujuran, hubungan akan kehilangan arah. Hati-hati, jika si dia sering tertangkap basah berbohong, sebaiknya Anda berpikir dua kali untuk menjadikannya pasangan hidup Anda. Jika Anda tak dapat memercayainya, kepada siapa lagi Anda bergantung?
- Respek. Carilah pria yang menaruh respek pada Anda. Dengan demikian Anda berdua lebih mudah bekerja sama dalam menyelesaikan setiap masalah yang muncul.
Kenali kepribadiannya sebelum menjawab 'Iya'
- Awali dengan tahap pengenalan diri. Fase ini akan membantu Anda menemukan apa yang sebenarnya Anda harapkan dari sebuah hubungan, dan pria seperti apa yang dapat mewujudkan keinginan Anda tersebut.
- Jangan terjebak dalam romantisisme sesaat. Dalam alam ideal, mungkin Anda menginginkan sosok pria yang selalu melimpahi Anda dengan segepok perhatian. Namun, ada baiknya jika sesekali Anda menyelidiki motivasi di balik perlakuan manisnya itu.
Anda pasti akan terbahak kalau pada tulisan ini saya mendefinisikan apa itu humor. Seperti kekurangan ide aja, mendefinisikan humor sementara hampir setiap detik kita tertawa mendengar gelitik canda dalam bus kota, kereta, mobil, ketika menonton televisi, bermain game komputer, membaca buku, singkatnya di manapun berada kita bisa guyon, humor, bahkan dalam alam pikir kita sendiri. Alam pikir? Ya, buktinya ketika tak ada seorang pun yang melontarkan cerita atau celetukan lucu, tetap saja terjadi seseorang tiba-tiba tersenyum bahkan terkikik sendiri. Artinya kita bisa menciptakan kelucuan dari sekitar dengan atau tanpa orang lain.
Lalu, apa itu lelucon, apa itu lucu? Ini tidak sekedar melucu, karena tidak sedikit penelitian psikologi yang menyelidiki humor, termasuk manfaatnya dalam dunia psikologi praktis.
Persepsi tentang Humor Humor is a social instrument that provides an effective way to reduce psychological distress, communicate a range of feelings and ideas, and enhance relationships; also, humor protects social relationships when communicating negative information. (Baldwin,2007)
Humor provides a means to communicate ideas and feelings, convey criticism, and express hostility in a socially acceptable manner (Brownell & Gardner, 1988; Dixon, 1980; Haig, 1986; Martin, 2001 in Baldwin 2007).
Kemampuan mentertawakan kondisi sekitar, diri sendiri, pilihan sendiri, menjadi salah satu katup yang akan melancarkan kembali kemampatan hidup. Pernah tidak anda mengalami kejadian seperti ini; anda ingin membeli sebuah pesawat televisi, sepertinya begitu sederhana, namun ternyata pilihan yang hadir sangat beragam, tidak hanya itu, anda pun harus menyesuaikan dengan lembaran yang tersedia dalam kantong.
Anda melakukan studi produk dengan membaca informasi dari koran, internet, diskusi dengan teman, kakak, juga orangtua. Lalu, anda mulai melakukan survey ke pusat elektronik terlengkap di kota anda, dijamin deh sesampai di sana anda bisa terbius oleh jajaran pesawat televisi beraneka rupa, ditambah rayuan orang-orang yang seakan tak pernah lelah mengobral keunggulan tiap produk dagangannya. Anda bisa terbius dan akhirnya menunjuk satu kotak ajaib itu, atau perputaran bintang di kepala mendorong anda untuk pulang tanpa satu kotak pilihan pun.
Mungkin anda memilih yang ke dua, karena anda termasuk orang yang tidak mau membeli sesuatu dalam kondisi 'tak sadar diri'. Sehari kemudian, ketika anda sedang berjalan ke arah mesin ATM dekat kompleks rumah, tiba-tiba mata anda tertuju pada satu toko kecil di samping ATM, toko elektronika. Anda pun memasuki toko itu dan melihat beberapa televisi yang tidak menyala dengan gemerlap seperti di beberapa pusat elektronika megah yang kemarin anda kunjungi. Namun, tidak sampai lima belas menit, anda sudah mengulurkan lembaran uang sebagai transaksi diiringi senyum puas.
Kisah sukses ini akan mendapat sambutan riuh sahabat anda, "Huu! jauh-jauh kutemani ke pusat elektronika, belinya di samping rumah"
Kalau ada yang tidak tertawa, atau terguling-guling sakit perut, mungkin kita perlu melihat juga reaksi apa yang terjadi dalam diri sewaktu mengkonsumsi humor.
Reaksi Kognitif & Afektif Apresiasi terhadap humor tidak murni merupakan kerja kognitif tetapi diperlukan juga keterlibatan proses afektif di dalamnya. Elemen kognitif di sini mengacu pada pemahaman humor dengan kemampuan mengenali atau mendeteksi disparitas antara materi humor dan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya (humor comprehensive). Pada sisi lain, elemen afeksi mengacu pada pengalaman menyenangkan (respons emosional) terhadap materi humor tersebut (humor appreciation) .
Mendengar lelucon, pacuan denyut jantung kita meningkat, kulit tubuh pun bereaksi, disusul segera oleh reaksi afektif yang positif dan kuat (Goldstein, Harman, McGhee, & Karasik, 1975; Katz, 1993; McGhee, 1983 dalam Berry 2004). Inilah yang menjelaskan mengapa badan kita terguncang-guncang, muka memerah, nafas terengah dan telapak tangan memegangi perut ketika mendengar cerita lucu. Semua merupakan kerjasama rapi dan detil dari reaksi kognitif mengenali lelucon yang menjelma dalam reaksi fisik, disertai afeksi menyenangkan.
Menertawakan Lelucon Apa yang membuat satu kejadian mampu memancing tawa pada sekelompok orang namun tidak sama sekali pada orang lain?
Studi menunjukkan kemampuan membedakan antara lucu dan tidak lucunya stimuli visual terkait pada sederhana atau tidaknya peristiwa termasuk konsepnya. Selain itu, humor juga bisa kita lihat menjadi dua jenis yakni humor verbal dan non-verbal. Apresiasi keduanya tentu tidak sama, humor verbal terkait dengan kemampuan abstraksi dan fleksibilitas mental, sementara humor non-verbal terkait dengan atensi visual.
Lelucon yang kita dengar dalam suatu percakapan membutuhkan kemampuan membayangkan dan menghadirkan imagi visual untuk menghasilkan reaksi positif yaitu tawa atau perasaan geli. Pada humor non verbal, contohnya membaca komik atau menonton film kartun membutuhkan perhatian visual kita untuk menggelitik sensitivitas humor diri kita.
Masih ada hal lain, yaitu pola hubungan sosial yang ternyata berpengaruh untuk menerabas perbedaan stimuli humor verbal maupun non-verbal. Misalnya, sekelompok mahasiswa psikologi, kemungkinan besar telah akrab dengan berbagai istilah yang dengan renyah sering menjadi bahan canda, seperti 'proyeksi', atau 'denial'.
Ketika seseorang dalam kelompok bercerita tentang mahasiswa yang dianggap begitu menyenangi dosen baru padahal di mata dia menyebalkan, kemudian ada celetukan"Proyeksi tuh, padahal wajah lu berbinar juga sekali setiap di kelas dosen ganteng itu" disambut gelak tawa, namun dua mahasiswa Arsitek lain yang kebetulan berada di dekat mereka akan mengernyitkan dahi dan mencoba lebih keras memahami makna kata 'proyeksi'. Apakah sama dengan proyeksi seperti pada gambar perspektif yang sering mereka buat?
Berlaku pula ketika mahasiswa psikologi terkikik melihat cipratan tinta yang secara spontan memancing humor ala test Rosarch, bukan merupakan humor bagi mahasiswa seni rupa misalnya. Maka konteks pun memegang peran di sini.
Humor dalam Konseling Seperti bentuk interaksi lain dalam kehidupan manusia, sesi konseling pun salah satu bentuk interaksi. Komunikasi selalu memerlukan 'kesamaan bahasa' untuk bisa terhubung. Kita mengenal sebuah istilah ice breaking, sebaai salah satu titik krusial dalam menjalin rapport di garis awal sesi ini. Humor telah menjadi pilihan spontan, tidak kecuali bagi konselor dan klien sendiri.
Konselor perlu melihat dan menentukan kondisi yang tepat ketika akan menyelipkan atau menggunakan humor dalam sesi konselingnya. Penggunaan humor ini menuntut pengukuran tingkat ketepatan dalam waktu dan sensitivitas. Humor yang tepat dan positif bukan tidak mungkin mampu menciptakan great insight bagi kehidupan dan dunia klien.
Sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang mungkin tercipta di awal konseling, idealnya humor mampu meredakan ketegangan dan memberi kemajuan positif dalam interaksi selanjutnya. Studi telah menunjukkan bahwa humor memang instrumen yang ampuh dalam konseling. Interpretasi tepat terhadap atmosfer atau suasana klien (konseling) serta kepribadian klien, menjadi pertimbangan penting bagi konselor untuk mengeluarkan joke-joke segar sebagai pendukung kesuksesan konseling.
Humor juga merupakan representasi komunikasi dan ekspresi klien. Klien memanfaatkan humor sebagai alat komunikasi untuk menanggapi berbagai aspek yang disajikan dalam proses konseling. Tidak jarang klien merasa grogi atau cemas ketika memasuki sesi konseling, maka humor menjadi barometer tingkat kenyamanan dan keamanan yang akan didapatkan dari interaksi dengan konselor. Kembali, humor berperan sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang cukup sensitif.
Humor Memacu Kreativitas Humor dan kesehatan telah banyak diperbincangkan dan dibuktikan, karena tertawa berarti melakukan peregangan otot-otot halus tidak hanya di sekitar wajah tapi seluruh tubuh sehingga kita menjadi santai. Humor juga berkhasiat memacu kreativitas, karenanya sangat dianjurkan dalam ruang kelas maupun ruang keluarga.
Pendekatan komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak, pengajar dan anak didik dapat mendorong kreativitas serta kemampuan berpikir, mengenalkan nilai-nilai, mengajarkan perilaku positif dan tanggung jawab pada lingkungan sekitar, menanamkan rasa percaya dan kepercayaan diri anak-anak dengan mengenalkan satu mekanisme untuk menghadapi kesedihan, kekecewaan atau perasaan duka (Lovorn,2008).
Mengapa? Karena mengapresiasi humor tidak sekedar terbahak, dibutuhkan sensitivitas sosial mencakup momen, siapa dan di mana kita saat itu. Mungkin kita sendiri akan langsung merasa geli menghadai satu kegagalan, tetapi kita perlu berpikir ulang ketika mendapati sahabat yang begitu terpukul pada satu kejadian, tidak serta merta humor bisa menjadi obat kekecewaan. Maka, mengenalkan dan membiasakan humor pada anak-anak, sekaligus melatih banyak aspek seperti terungkap dalam penelitian Lovorn di atas.
JK.Rowling dalam karyanya "Harry Potter" pun menawarkan 'terapi' humor pada pembacanya dengan menciptakan mantra "Ridiculus" untuk melenyapkan Boggart, makhluk non penyihir yang selalu berwujud beda-beda tergantung ketakutan yang dimiliki penyihir. Seperti Ron Weasley yang takut pada laba-laba, maka boggart akan menampakkan dirinya sebagai laba-laba raksasa, mengucapkan mantra Ridiculus dan membayangkan laba-laba (ketakutan) menjadi /melakukan sesuatu yang menggelikan, maka hilanglah ketakutan (Boggart) itu.
Menertawakan ketakutan diri sendiri, menjadi obat penawar yang ampuh, itulah yang ingin disampaikan. Semoga bermanfaat !
VIVAnews - Sering lupa meletakkan kunci atau dompet? Atau, apakah Anda sering ketinggalan membawa barang? Berarti Anda tergolong pelupa. Ingin mengubah kebiasaan pelupa Anda?
Menurut buku ‘Metode Jitu Meningkatkan Daya Ingat’ yang ditulis oleh Deasy Harianti, untuk meningkatkan daya ingat ada dua hal penting. Atensi dan Konsentrasi.
Atensi adalah kebiasaan memperhatikan barang sekecil apapun. Seperti, menaruh pulpen, meletakkan kacamata, atau kunci rumah. Misalnya, saat Anda mengambil kunci rumah, coba diingat-ingat, di mana Anda mengambil itu, kunci apa yang Anda ambil, berntuknya seperti apa, dan di mana biasa Anda meletakkan kunci itu. Hal-hal kecil itu akan memberikan informasi pada otak yang merupakan proses atensi atau perhatian.
Jika proses atensi tersebut dijadikan kebiasaan terus-menerus, maka akan meningkatkan konsentrasi. Konsentrasi inilah yang akan membuat kita lebih fokus dan lebih mudah memanggil kembali ingatan kita akan sesuatu.
Selain itu, biasakan diri untuk tidak tergantung orang lain. “Kalau bergantung pada orang lain untuk mengingatkan sesuatu, kita tidak melatih diri dan otak kita. Sel-sel otak kita jumlah 1 trilyun. Dan, rata-rata manusia menggunakannya hanya 5 %. Untuk itu optimalkan sel-sel otak dengan melatih atensi dan konsentrasi. Berarti tanpa bergantung dari orang lain,” kata Deasy pada Talkshow penerbit Demedia berjudul ‘Memory Power’ di ajang Pesta Buku Jakarta.
Dalam buku tersebut, ada beberapa teknik untuk lebih mudah mengingat, yaitu:
1. Teknik plesetan.
Caranya dengan melatih bahasa asing. Salah satunya, ‘tounge’ yang artinya lidah. Anda membuat kalimat dari kata itu. Misalnya, lidah dijepit dengan tang. Kalimat itu ekstrem. Biasanya kalimat ekstrem akan menempel di otak. Teknik tersebut bisa terapkan pada anak sejak usia 5 tahun – sampai manula.
2. Mengenali ciri fisik
Ketika pertama kali kenalan, jika langung lupa nama orang yang dikenalkan pada Anda, ada cara jitu untuk mengingatnya. Misalnya, ketika Anda dikenalkan oleh si A. Coba perhatikan ciri fisiknya, apakah berambut keriting, bertubuh gemuk, atau berkacamata. Dari sini Anda bisa mengingat namanya dengan lebih jelas.
ROMA, KOMPAS.com — Para peneliti mengatakan, jika Anda ingin seseorang berbuat sesuatu, minta lewat telinga kanan.
Para peneliti Italia menemukan bahwa orang lebih bagus memproses informasi jika permintaan diajukan lewat telinga kanan dalam tiga kali uji coba terpisah.
Mereka meyakini hal itu disebabkan karena sisi kiri otak, yang memang lebih baik dalam memproses permintaan, menerima informasi dari telinga kanan. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal online Naturwissenschaffen.
Dalam penelitian pertama, 286 pengunjung klub dansa diamati saat berbincang sementara musik keras dimainkan. Secara keseluruhan, 72 persen interaksi terjadi di sisi kanan pendengaran.
Dalam penelitian kedua, peneliti mendekati 160 pengunjung klub musik, membisikkan kata-kata yang tak bermakna, dan menunggu sampel menolehkan kepala untuk menawarkan telinga kiri atau kanan. Mereka kemudian meminta sebatang rokok. Secara keseluruhan 58 persen menawarkan telinga kanan kepada peneliti dan 42 persen menawarkan telinga kiri.
Dalam penelitian ketiga, para peneliti dengan sengaja berbicara kepada 176 pengunjung klub musik lewat telinga kanan atau telinga kiri saat meminta rokok. Para peneliti yang berbicara ke telinga kanan mendapat lebih banyak rokok dari sebaliknya.
Para peneliti berkesimpulan: "Berbicara ke kuping kanan berarti Anda mengirim kata-kata ke bagian otak yang agak lebih sensitif." Kesimpulan ini tampaknya sejalan dengan hipotesa mengenai spesialisasi bagian otak kanan dan kiri.
Professor Shopie Scott dari Institut Ilmu Syaraf Kognitif di Universitas College London sepakat dengan kesimpulan itu. "Sebagian besar orang memproses perkataan dan bahasa di bagian kiri otak dan meski tidak selalu begitu, yang terjadi di telinga kanan diproses oleh sisi kiri otak."